Mengenal Asal-usul Banjarmasin: Kunjungan Edukatif Siswa SMPN 1 ke Museum Wasaka

Memahami sejarah lokal merupakan bagian penting dalam pembentukan jati diri generasi muda agar tidak kehilangan akar budayanya di tengah arus modernisasi. Hal inilah yang mendasari program kunjungan edukatif para siswa SMPN 1 Banjarmasin ke Museum Wasaka, sebuah situs bersejarah yang menyimpan memori kolektif perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Melalui kegiatan belajar di luar kelas ini, siswa tidak hanya membaca narasi sejarah dari buku teks, tetapi melihat langsung bukti fisik dan artefak yang menjadi saksi bisu lahirnya kota Banjarmasin serta perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Kunjungan ke Museum Wasaka memberikan perspektif baru bagi siswa mengenai asal-usul tempat tinggal mereka. Nama “Wasaka” sendiri merupakan singkatan dari Waja Sampai Ka Puting, sebuah semboyan perjuangan rakyat Banjar yang berarti “berjuang sampai titik darah penghabisan”. Di dalam museum yang menempati bangunan rumah adat Banjar tipe Bubungan Tinggi ini, siswa diajak menelusuri lini masa sejarah, mulai dari masa kerajaan hingga periode revolusi fisik. Pengetahuan ini sangat krusial bagi siswa SMPN 1 agar mereka memiliki rasa bangga dan rasa memiliki terhadap identitas daerahnya yang kaya akan nilai kepahlawanan.

Selama berada di Museum Wasaka, para siswa dipandu untuk mengamati berbagai koleksi benda bersejarah, seperti senjata tradisional, dokumen-dokumen penting, hingga peralatan komunikasi yang digunakan oleh para pejuang gerilya. Salah satu daya tarik utama yang memikat perhatian siswa adalah koleksi foto-foto lama yang menggambarkan transformasi tata kota Banjarmasin dari masa ke masa. Dengan melihat visualisasi sejarah tersebut, siswa dapat memahami bagaimana sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu dan mengapa Banjarmasin dikenal dengan julukan Kota Seribu Sungai. Pembelajaran kontekstual seperti ini jauh lebih efektif dalam menanamkan pemahaman sejarah dibandingkan hanya menghafal angka tahun di dalam kelas.

Selain aspek sejarah perjuangan, kunjungan ke Museum Wasaka juga menjadi sarana bagi siswa SMPN 1 untuk belajar tentang arsitektur tradisional Banjar. Bangunan museum itu sendiri merupakan cagar budaya yang merepresentasikan kearifan lokal dalam menyikapi kondisi geografis lahan basah. Siswa diajarkan bagaimana nenek moyang mereka membangun rumah panggung yang kokoh dan estetis, yang tetap relevan hingga saat ini. Pendidikan berbasis budaya ini diharapkan dapat menginspirasi siswa untuk turut serta menjaga dan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah yang ada di lingkungan sekitar mereka agar tidak punah ditelan pembangunan gedung modern.