Sekolah Sungai: SMPN 1 Banjarmasin & Dishub Edukasi Wisata Bahari

Kota Banjarmasin dikenal secara global sebagai Kota Seribu Sungai, sebuah identitas yang melekat erat dengan urat nadi kehidupan masyarakatnya sejak zaman dahulu. Namun, seiring dengan modernisasi, tantangan pelestarian ekosistem perairan menjadi semakin kompleks. Menanggapi hal tersebut, SMPN 1 Banjarmasin mengambil inisiatif strategis dengan meluncurkan program Sekolah Sungai. Program ini merupakan sebuah terobosan edukasi yang tidak hanya berfokus pada teori di dalam kelas, tetapi juga membawa siswa langsung ke lapangan untuk memahami, menjaga, dan mencintai warisan alam yang menjadi identitas daerah mereka.

Melalui kemitraan yang kuat antara pihak sekolah dan Dinas Perhubungan (Dishub) setempat, program ini berhasil mengintegrasikan aspek transportasi air dengan pelestarian lingkungan. Sinergi ini bertujuan untuk memberikan Edukasi yang komprehensif kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai sebagai jalur transportasi utama sekaligus objek wisata potensial. Siswa diajarkan bagaimana sistem navigasi sungai bekerja, aturan keselamatan di air, hingga dampak negatif dari pembuangan limbah domestik ke badan sungai yang dapat menghambat mobilitas warga dan merusak ekosistem.

Salah satu fokus utama dari program di SMPN 1 Banjarmasin adalah pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis perairan. Melalui konsep Wisata Bahari, para siswa dilatih untuk menjadi duta wisata cilik yang mampu menjelaskan sejarah dan keunikan sungai-sungai di Banjarmasin kepada wisatawan. Mereka diajarkan mengenai narasi budaya pasar terapung, arsitektur rumah lanting, hingga flora dan fauna khas sungai Barito. Dengan memiliki pemahaman yang mendalam, siswa diharapkan dapat mempromosikan pariwisata daerah mereka dengan cara yang lebih modern dan komunikatif di era digital saat ini.

Keterlibatan Dishub dalam proyek ini sangat krusial, terutama dalam menyediakan sarana transportasi berupa bus air yang aman untuk kegiatan praktik siswa. Di atas kapal, proses belajar mengajar menjadi sangat dinamis. Siswa melakukan pengambilan sampel air untuk diuji tingkat polusinya, serta melakukan aksi bersih-bersih sungai di titik-titik tertentu. Pengalaman empiris ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar membaca buku teks, karena siswa dapat melihat langsung realitas kondisi lingkungan mereka dan merasakan tanggung jawab untuk melakukan perubahan nyata.