Seni Pantun Banjar: Cara SMPN 1 Banjarmasin Jaga Kelestarian Bahasa Daerah yang Viral
Di tengah gempuran budaya pop global dan penggunaan bahasa gaul di media sosial, tantangan untuk melestarikan bahasa daerah menjadi semakin besar. Namun, SMPN 1 Banjarmasin memiliki cara yang unik dan efektif untuk menghadapi tantangan tersebut melalui revitalisasi Seni Pantun Banjar. Sekolah ini menyadari bahwa pantun bukan sekadar susunan kata-kata berima, melainkan identitas kultural masyarakat Kalimantan Selatan yang sarat akan nilai moral dan filosofi hidup. Dengan mengemasnya secara modern dan relevan dengan tren masa kini, pihak sekolah berhasil membuat bahasa daerah kembali diminati oleh generasi muda hingga menjadi perbincangan yang viral di lingkungan pendidikan.
Pengenalan kembali Seni Pantun Banjar di sekolah dimulai dari integrasi dalam mata pelajaran muatan lokal dan kegiatan ekstrakurikuler. Siswa diajarkan struktur pantun yang khas, yakni penggunaan dialek Banjar yang kental dengan rima yang harmonis antara sampiran dan isi. Guru-guru di SMPN 1 Banjarmasin memberikan tantangan kepada siswa untuk membuat pantun yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari remaja, mulai dari tema persahabatan, pentingnya belajar, hingga ajakan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Pendekatan ini membuat siswa merasa bahwa pantun bukanlah produk masa lalu yang membosankan, melainkan media ekspresi yang seru dan bisa diaplikasikan dalam percakapan sehari-hari.
Kunci dari kesuksesan Seni Pantun Banjar ini hingga menjadi viral adalah pemanfaatan platform digital. Siswa didorong untuk mengunggah video pendek saat mereka melakukan “balas pantun” atau madihin singkat di media sosial sekolah. Konten visual yang dipadukan dengan kepiawaian mengolah kata dalam bahasa Banjar ternyata mendapat respon positif tidak hanya dari kalangan siswa sendiri, tetapi juga dari alumni dan masyarakat luas. Hal ini membuktikan bahwa bahasa daerah memiliki daya tarik yang kuat jika disajikan dengan kreativitas yang tinggi. Siswa merasa bangga saat karya pantun mereka mendapat banyak apresiasi, yang secara otomatis meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam menggunakan bahasa ibu.
Selain aspek hiburan, Seni Pantun Banjar di SMPN 1 Banjarmasin juga digunakan sebagai alat pendidikan karakter. Di dalam setiap bait pantun yang dibuat, terselip pesan-pesan bijak atau “petuah” dari orang tua. Melalui proses kreatif membuat pantun, siswa secara tidak langsung belajar tentang etika, sopan santun, dan kearifan lokal masyarakat Banjar. Kemampuan berpikir cepat dalam mencari kata-kata yang berima juga mengasah kecerdasan linguistik dan logika siswa. Ini adalah bentuk literasi budaya yang sangat komprehensif, di mana kecerdasan kognitif dan kecintaan pada tanah air tumbuh secara bersamaan dalam satu kegiatan seni yang menyenangkan.