Tenggelam & Water Rescue: Edukasi Keselamatan Sungai SMPN 1 Banjarmasin
Kota Banjarmasin dikenal dengan julukan Kota Seribu Sungai, di mana aktivitas masyarakatnya sangat bergantung pada aliran air. Namun, di balik keunikan budaya sungai tersebut, risiko kecelakaan air seperti kondisi tenggelam menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai, terutama bagi anak-anak dan remaja. Menanggapi tantangan ini, SMPN 1 Banjarmasin secara aktif memberikan edukasi mengenai keselamatan air dan teknik penyelamatan dasar. Pengetahuan ini sangat krusial agar siswa tidak hanya pandai berenang, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan teknis saat menghadapi situasi darurat di perairan.
Kondisi tenggelam sering kali terjadi secara senyap, berbeda dengan apa yang sering digambarkan dalam film di mana korban berteriak minta tolong. Secara medis, seseorang yang sedang tenggelam biasanya mengalami Instinctive Drowning Response, di mana tubuhnya berfokus sepenuhnya pada usaha bernapas sehingga tidak mampu berteriak atau melambaikan tangan. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat saat beraktivitas di pinggir sungai adalah langkah preventif paling utama. Siswa diajarkan untuk mengenali tanda-tanda seseorang yang mulai kesulitan di air, seperti posisi kepala yang rendah, mulut yang sejajar dengan permukaan air, dan gerakan kaki yang tidak teratur.
Dalam protokol water rescue yang diajarkan kepada siswa di Banjarmasin, terdapat prinsip dasar keselamatan penolong yang disebut dengan urutan “Reach, Throw, Row, Go”. Prinsip pertama adalah Reach (menjangkau), yaitu mencoba menolong korban dengan menggunakan galah, kayu, atau tangan tanpa harus masuk ke dalam air. Jika tidak memungkinkan, lakukan Throw (melempar) benda yang dapat mengapung seperti ban bekas, jeriken kosong, atau pelampung. Jika masih gagal, gunakan perahu (Row). Langkah terakhir, yaitu Go (berenang menghampiri korban), hanya boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki keahlian penyelamatan bersertifikat, karena risiko penolong ikut tenggelam akibat tarikan panik korban sangatlah besar.
Setelah korban berhasil dievakuasi ke daratan, tindakan pertolongan pertama harus segera dilakukan secara presisi. Langkah awal adalah memeriksa kesadaran dan pernapasan korban. Jika korban tidak bernapas, segera lakukan prosedur Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau CPR. Edukasi di SMPN 1 Banjarmasin menekankan pentingnya mengeluarkan air dari saluran napas, namun bukan dengan cara menjungkirbalikkan tubuh korban atau menekan perut secara berlebihan. Fokus utama adalah memberikan bantuan napas dan kompresi dada untuk memastikan oksigen tetap mengalir ke otak hingga bantuan medis tiba di lokasi kejadian.